Muncul perdebatan mengenai siapa yang memiliki kontribusi nyata dalam perjuangan TPUA sejak awal (2017). DHL dan Eggi Sudjana menegaskan bahwa mereka yang secara konsisten melakukan upaya hukum baik litigasi maupun non-litigasi. Sementara itu, pihak seperti Kurnia, Azam, dan Rizal Fadillah dianggap sebagai "pendatang baru" yang hanya ikut-ikutan tanpa memiliki fanatisme terhadap perjuangan inti TPUA, terutama dalam gugatan dan pelaporan ke Dumas Mabes Polri.
Primordialisme dan Pembuatan Buku
Keikutsertaan Rismon dan Taufik (RRT) dalam kunjungan TPUA ke UGM kemudian diikuti dengan rencana pembuatan buku menimbulkan tanda tanya. Kedatangan mereka yang dianggap "tiba-tiba" dan tanpa undangan resmi dari pimpinan TPUA, serta klaim primordial Rismon terhadap DHL, dianggap mengaburkan narasi perjuangan yang sebenarnya dan berpotensi tidak ilmiah.
Pembekuan TPUA dan Pertanyaan Loyalitas
Dalam situasi dimana TPUA menghadapi pembekuan sementara, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang paling diuntungkan? DHL dan Eggi menyoroti sikap beberapa pihak yang justru tampil garang di media, bertentangan dengan anjuran untuk cooling down, dan seolah merasa senang dengan melemahnya posisi kepemimpinan lama TPUA.
Mereka yang dianggap "ikut-ikutan" dituding hanya ingin "nampang dan numpang" tanpa pondasi kokoh, sambil memprovokasi dengan kata "kami". Sementara, loyalitas sejati dan perjuangan berkelanjutan justru datang dari pihak yang dituding sebagai "pengkhianat".
Penutup dan Harapan Ke Depan
Konflik internal ini menyisakan pertanyaan tentang objektivitas, adab, dan niat sebenarnya dari berbagai pihak yang terlibat. DHL berharap agar Dewan Pembina TPUA dapat mengaktifkan kembali organisasi dengan kepengurusan yang lebih fresh dan bertanggung jawab. Tujuannya adalah agar perjuangan inti TPUA tidak hancur, melainkan dapat terus berlanjut dengan integritas yang terjaga, mengesampingkan kepentingan oknum yang hanya mencari keuntungan pribadi dari panggung publik.
Artikel Terkait
Kritik Proyek 35.000 Mobil India: Boros APBN Rp 9,7 T Saat Utang Rp 10.000 T?
Viral! Argo Taksi Premium Tembus Rp 1,5 Juta untuk 80 Km, Netizen Heboh
Kesepakatan Transfer Data Indonesia-AS: Dampak, Regulasi PDP, dan Analisis Lengkap
Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah: Analisis & Dampaknya