Jaksa Agung AS, Pam Bondi, menyatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, didakwa di Distrik Selatan New York. Tuduhan utama meliputi konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, dan kepemilikan senjata otomatis.
"Mereka akan menghadapi keadilan Amerika di pengadilan Amerika," tegas Bondi. Dakwaan terhadap Maduro sebenarnya telah ada sejak 2020, sementara dakwaan untuk Cilia Flores baru terungkap sekarang.
Pemerintahan Trump bahkan menggandakan imbalan untuk informasi penangkapan Maduro menjadi $50 juta atau setara Rp 835,5 miliar pada Agustus 2025. Maduro dituding sebagai pemimpin Cartel de los Soles, organisasi perdagangan narkoba transnasional.
Ketegangan Geopolitik AS-Venezuela
Penahanan ini memperdalam ketegangan geopolitik antara Washington dan Caracas. Mantan Presiden AS Donald Trump berulang kali menuduh Venezuela sebagai pengekspor narkoba utama ke AS dan mengambil alih aset minyak Amerika.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga menegaskan bahwa Maduro bukan presiden sah Venezuela, menyoroti pemilu yang dianggap cacat oleh pengamat internasional.
Dengan ditahannya seorang kepala negara di penjara bermasalah seperti MDC, proses hukum terhadap Nicolas Maduro akan menjadi sorotan dunia, mencerminkan persimpangan antara hukum, politik, dan hubungan internasional.
Artikel Terkait
Kehadiran TNI di Sidang Nadiem Makarim Disorot: Hakim, Mahfud MD, dan HAM Protes
Doktif Ucapkan Selamat Sarkastis ke Dokter Richard Lee Jadi Tersangka: Kek cucookan Suneo
Manohara Odelia Klarifikasi: Bukan Mantan Istri, Ini Fakta Mengejutkan yang Diungkap
Indonesia Menang Lelang Lahan Haji 500 Meter dari Masjidil Haram, Tampung 25.000 Jemaah