Dalam pernyataan resminya, Lopez menegaskan bahwa pasukan AS membunuh banyak pengawal kepresidenan saat menculik Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Bahkan, sejumlah staf kepresidenan yang berstatus warga sipil disebut ikut menjadi target pembunuhan dalam operasi tersebut.
“Angkatan bersenjata nasional Bolivarian dengan tegas menolak penculikan pengecut terhadap Presiden konstitusional Republik Bolivarian Venezuela dan Panglima Tertinggi kami, Nicolas Maduro Moros, serta istrinya, Ibu Negara Cilia Flores de Maduro,” tegas Lopez, seperti dikutip dari Sputnik.
Dia menambahkan, aksi penculikan itu dilakukan setelah pasukan AS terlebih dulu melumpuhkan sistem keamanan di sekitar presiden dengan cara yang brutal. “Kejahatan itu dilakukan pada hari Sabtu, 3 Januari, setelah sebagian besar tim keamanannya, personel militer, serta warga sipil yang tidak bersalah dibunuh dengan kejam,” kata Lopez.
Berita internasional ini menyoroti ketegangan geopolitik terbaru antara Venezuela dan Amerika Serikat, dengan klaim korban jiwa yang signifikan dari pihak Venezuela. Perkembangan situasi dan respons resmi dari pemerintah AS masih dinantikan.
Artikel Terkait
Anak Politisi PKS Maman Suherman Tewas Ditikam: Kronologi, Pelaku HA, dan Tuntutan Hukuman Mati
Richard Lee Diperiksa Polda Metro Jaya: Kronologi Kasus Hukum & Status Tersangka
SP3 Kasus Ijazah Jokowi Hampir Mustahil? Analisis Ahli Hukum UI Aristo Pangaribuan
Kehadiran TNI di Sidang Nadiem Makarim Disorot: Hakim, Mahfud MD, dan HAM Protes