Namun, tekanan dari sekutu AS di Timur Tengah akhirnya membuahkan hasil. Dilaporkan sedikitnya sembilan negara Arab mendesak pemerintahan Trump untuk menyetujui perubahan lokasi ke Oman dan tidak membatalkan pertemuan. AS akhirnya menyetujui, meski dengan sikap skeptis, untuk menghormati sekutunya dan menjaga peluang penyelesaian diplomatik.
Iran juga bersikeras bahwa perundingan harus bersifat langsung antara Teheran dan Washington, menolak partisipasi perwakilan dari negara lain seperti Turki, Mesir, dan Qatar.
Hasil Perundingan Dinilai Sulit Diprediksi
Menyongsong pertemuan di Oman, seorang sumber Iran kepada RIA Novosti menyatakan bahwa hasil perundingan akan sulit diprediksi. "Kerumitan situasi dan tindakan AS" disebut sebagai penyebabnya.
"Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama, khususnya setelah langkah militer agresif yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat," ungkap sumber tersebut. Langkah agresif itu dinilai telah memperdalam ketidakpercayaan dan meningkatkan kewaspadaan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya memasuki diplomasi dengan mata terbuka. "Komitmen harus dihargai. Berdiri setara, saling menghormati dan kesamaan kepentingan bukan retorika, adalah suatu keharusan dan pilar untuk sebuah kesepakatan yang bertahan lama," tegasnya.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyoroti pentingnya jalur diplomatik. "Kami percaya intervensi eksternal terhadap negara tetangga kami, Iran, adalah ancaman serius bagi seluruh kawasan, dan cara paling masuk akal untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk masalah nuklir, adalah melalui diplomasi," ujarnya di Mesir.
Artikel Terkait
Illinois Bergabung dengan Jaringan WHO: Krisis Tata Kelola AS dan Dampaknya bagi Global
Bobon Santoso Pensiun: Jual Akun YouTube 18 Juta Subscriber Rp 20 Miliar, Ini Alasannya
Koneksi Jeffrey Epstein dan Rusia: Fakta, Pengalihan Isu, dan Tuntutan Transparansi Schumer
Jeffrey Epstein & Rothschild: Email Rahasia Ungkap Bisnis Gelap dari Konflik Ukraina