Efriza, yang merupakan Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), menjelaskan bahwa politik tidak hanya bekerja pada fakta, tetapi juga pada persepsi publik. Ia meyakini Jokowi paham betul risiko dari pilihan-pilihannya.
"Jika datang ke arena hukum, ada risiko pengikisan citra Jokowi dan keluarganya, bahkan penyusutan pengaruh politiknya secara signifikan," kata Efriza.
Sebaliknya, kehadiran di forum politik seperti Rakernas PSI berpotensi memperkuat posisi tawar, menjaga citra, serta mempertahankan pengaruh politik untuk kepentingan pribadi dan keluarga.
Kesimpulan: Sebuah Langkah Strategis yang Disadari
Berdasarkan analisis tersebut, absennya Jokowi dari persidangan dan kehadirannya di PSI dinilai bukan sebagai kebetulan. Efriza menilai ini adalah langkah yang diambil secara sadar sebagai bagian dari strategi politik menghadapi proses hukum.
"Dengan demikian, persepsi tentang pengaruh politik Jokowi di PSI dapat dipahami sebagai bagian dari strategi politiknya dalam menghadapi proses hukum secara terbuka," pungkasnya.
Artikel Terkait
PKB Dukung Prabowo 2 Periode, Tapi Cawapres 2029 Masih Misteri
Kepala KPP Madya Banjarmasin Mulyono Ditahan KPK, Warganet Sindir Mulyono dari Solo
Juda Agung Dilantik Jadi Wamenkeu: Profil, Karier BI-IMF, dan Kekayaan Rp56 Miliar
Retno Marsudi Dipanggil Prabowo ke Istana, Warganet: Rindu Menlu Berintegritas dan Cerdas