Trauma Sejarah Orde Baru dan Potensi Mahalnya Biaya Politik
Penolakan ini juga dilatarbelakangi trauma sejarah masa Orde Baru, di mana demokrasi sangat terbatas. Said Iqbal menepis alasan biaya Pilkada langsung yang mahal. Menurutnya, justru sistem melalui DPRD berpotensi memicu biaya politik yang lebih besar akibat praktik jual beli kursi.
"Kalau dibilang biaya mahal, siapa bilang dengan DPRD ada jaminan biayanya lebih murah? Biaya tinggi itu bukan pada pelaksanaan Pilkada, biaya tinggi itu adalah politik uang," pungkas Said.
Potensi Intervensi Pengusaha dan Solusi dari Partai Buruh
Said Iqbal juga memperingatkan bahwa Pilkada melalui DPRD berpotensi memperbesar pengaruh pengusaha terhadap kebijakan daerah melalui lobi ke anggota dewan. Hal ini dapat menghasilkan Peraturan Daerah (Perda) yang merugikan buruh dan masyarakat kecil.
Sebagai solusi jika biaya menjadi masalah, Partai Buruh dan KSPI menawarkan perbaikan sistem, bukan penghapusan demokrasi langsung. "Partai Buruh dan serikat buruh KSPI menawarkan perubahan sistem saksi dan penguatan teknologi rekapitulasi suara melalui Sirekap. Dengan transparansi data, biaya bisa ditekan tanpa mengorbankan hak pilih rakyat," jelas Said Iqbal.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, KSPI dan Partai Buruh bersikukuh mendukung pelaksanaan Pilkada secara langsung sebagai bentuk perlindungan terhadap demokrasi dan kesejahteraan pekerja.
Artikel Terkait
Pria Tertua Arab Saudi Meninggal di Usia 142 Tahun, Tinggalkan 134 Keturunan
SBY Peringatkan Bahaya Konflik: Persaudaraan Kunci Utama Bangsa Kuat
Gus Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji 2024: Kronologi, Kerugian Negara, dan Respons Yudo Sadewa
Khairun Nisya Dapat Beasiswa Pramugari Gratis dari Aeronef Academy Usai Viral