Kapal induk kelas Nimitz ini telah memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM) di Samudra Hindia. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kapal-kapal perang AS bergerak "untuk berjaga-jaga" dan menolak menghapus opsi intervensi militer.
Klaim Trump dan Respons Iran
Dalam perkembangan terpisah, Presiden Trump mengklaim bahwa Iran kini ingin berunding dengan Washington setelah pengerahan kekuatan militer AS. "Mereka ingin membuat kesepakatan sekarang. Saya tahu itu. Mereka menghubungi beberapa kali," ujarnya.
Namun, Iran membalas dengan pernyataan keras. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan negaranya "lebih siap dari sebelumnya" untuk merespons setiap agresi. Ia menggambarkan situasi ini sebagai "perang hibrida" dan menuding AS serta Israel berada di balik ketidakstabilan.
Soliditas Militer Iran Menghadapi Ancaman
Para komandan militer senior Iran juga menekankan persatuan dan kesiapan tempur. Komandan Pasukan Darat, Ali Jahanshahi, menyatakan angkatan bersenjata Iran akan bertindak sebagai satu kesatuan untuk menggagalkan musuh dan siap mempertahankan negara "hingga titik darah penghabisan".
Pernyataan serupa datang dari Komandan Pasukan Darat Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Karami, yang menekankan bahwa sinergi di antara angkatan bersenjata adalah aset berharga yang telah menggagalkan rencana musuh.
Eskalasi ini terjadi di tengah memanasnya situasi regional, dengan kedua belah pihak saling menunjukkan kekuatan dan kesiapan, meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik terbuka yang dampaknya dapat meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Ahok Mundur dari Komisaris Utama Pertamina, Ungkap Beda Pandangan Politik dengan Jokowi
Eggi Sudjana Laporkan Roy Suryo ke Polisi Terkait Kasus Ijazah Jokowi
Aturan Baru BGN: Siswa Dilarang Bawa Pulang Makanan MBG, Ini Alasan dan Dampaknya
Bahaya Nge-Whip: Henti Jantung Mendadak hingga Kerusakan Otak, Waspada!