Strategi ketiga berhubungan dengan penyiapan posisi politik. Jika kelak Prabowo tidak lagi menggandeng Gibran di periode kedua, Jokowi dengan mudah dapat memainkan peran sebagai pihak yang dikhianati. Posisi korban ini memberikan keuntungan politik tersendiri, baik untuk membela Gibran maupun menarik simpati pendukung.
4. Opsi Tampil sebagai Figur yang Legawa dan Berbesar Hati
Alasan keempat adalah penyiapan jalan keluar yang elegan. Seandainya Prabowo tidak memilih Gibran dan Jokowi memutuskan untuk tidak melawan, ia dapat tampil sebagai figur yang legawa dan mementingkan kebersamaan untuk masa depan bangsa. Analis seperti Hasan Nasbi menilai Jokowi sebagai penganut prinsip Sun Tzu sejati: hanya masuk ke pertempuran jika peluang menangnya besar.
Dinamika Dukungan dan Persepsi Publik
Keempat faktor ini menunjukkan bahwa langkah Jokowi didesain untuk selalu menguntungkan posisinya. Narasi pertama banyak disuarakan oleh lawan politiknya, sementara narasi kedua dan ketiga banyak diangkat oleh pendukung setianya. Sementara itu, skenario keempat menunjukkan fleksibilitas strategi Jokowi dalam menghadapi dinamika politik yang berubah.
Dengan demikian, dukungan dini untuk pasangan Prabowo-Gibran dua periode bukan sekadar dukungan biasa, melainkan sebuah manuver politik multidimensi yang bertujuan mengamankan pengaruh, warisan politik, dan masa depan dinasti politik keluarga Jokowi dalam peta kekuasaan Indonesia.
(Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
Pemkot Denpasar Aktifkan Kembali BPJS Kesehatan 24 Ribu Warga: Anggaran & Langkahnya
11 Juta Peserta PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan 2026: Kronologi, Dampak, dan Solusi
Influencer Kuliner Tewas Usai Makan Kepiting Setan: Fakta & Bahaya Neurotoksin
Video Nay TikTok Bocor Lagi 2024? Waspada Link 5 Menit Penipuan & Malware