Dukungan Publik untuk Pilkada Langsung Berdasarkan Data Survei
Sikap elite parpol tersebut dinilai bertolak belakang dengan kehendak publik. Sejumlah hasil survei terbaru secara konsisten menunjukkan mayoritas masyarakat menolak Pilkada tidak langsung:
- Survei Politika R&C (Juni 2025): 65,7% responden tidak setuju atau sangat tidak setuju jika Pilkada dipilih oleh DPRD.
- Survei LSI Denny JA (Januari 2026): 66,1% publik menyatakan kurang setuju, tidak setuju, atau sangat tidak setuju terhadap Pilkada tidak langsung.
- Survei Litbang Kompas: Angka penolakan lebih tinggi, yaitu 77,3% publik menginginkan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat.
Kegagalan Partai Politik dalam Komunikasi Politik
Dalam teori politik, partai politik berfungsi sebagai sarana komunikasi politik antara pemerintah dan warga negara, melalui proses agregasi dan artikulasi kepentingan. Namun, dengan memaksakan wacana Pilkada tidak langsung tanpa kajian yang melibatkan aspirasi publik, partai politik dinilai telah gagal menjalankan peran strategis ini.
"Parpol justru melawan arus kehendak rakyat," pungkas Nurul Fatta. Mayoritas elite partai politik, kecuali PDIP, dinilai menutup mata dan telinga terhadap aspirasi publik yang jelas-jelas menginginkan pemilihan kepala daerah secara langsung.
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Dipertanyakan: Transkrip Sarjana Muda vs Gelar Sarjana Penuh, Ini Fakta Sidang KIP
Eggi Sudjana Bantah Minta Maaf ke Jokowi Soal Ijazah: Pengacara Beberkan Fakta Pertemuan Solo
Bahlil di Depan Prabowo: Komitmen Swasembada Energi Hingga Rela Beri Nyawa
Luhut Bantah Punya Saham Toba Pulp Lestari: Klarifikasi Lengkap dan Usulan ke Prabowo